Indonesia, akrab dengan budaya korupsinya. Tidak hanya dikalangan DPR atau Pemerintah Pusat lebih dari itu semua elemen masyarakat melakukannya. Jika korupsi dinyatakan sebagai penggelapan uang maka hampir 98% masyarakat Indonesia melakukannya, itu karena rantai korupsi melibatkan siapa yang korupsi, apa yang dikorupsi dan darimana barang yang dikorupsi.

Dorongan untuk korupsi secara tidak langsung telah diajarkan di sekolah.
berapa banyak dari sekolah yang mengajukan proposal permintaan dana berani mengembalikan sisa dana setelah proyek selesai, padahal selisih dasar anggaran dan pengajuan dana bisa dua kali lipat. Hal semacam itu sulit untuk disembunyikan dan telah menjadi wajar disemua kalangan. Siswa yang mendapat edaran pembayaran untuk orang tuanya tidak akan menyampaikan surat edaran itu pada orang tuanya, hanya memberitahukan untuk harus membayar sekian (bisa dua atau tiga kali lipat dari yang tertera di surat edaran).
Para mahasiswa mengajukan proposal kegiatan meminta dana 200%+ pada kampus, membagi-bagikannya pada tim, menyembunyikannya dari anggota. Mereka terpelajar mempelajari cara-cara korupsi itu hal yang bisa dikatakan wajar dikalangan kampus, itu juga kewajaran salah yang telah dibudayakan dikalangan kampus.

Dorongan untuk korupsi pada proses PEMILU yang memilih para koruptor baru.
Pemilu diakui atau tidak selalu menggunakan politik uang, korbannya adalah masyarakat dengan etika pas-pasan yang langsung jatuh melihat uang, tanpa pikir panjang diterima begitu saja dan dari kandidat siapa saja. Pemilu lebih mirip jual beli jabatan, kandidat yang mengeluarkan uang paling banyak kemungkinan menang lebih besar. Pemikiran masyarakat menilai pemilu adalah pesta uang, tak ada uang mereka tak mau memilih (wow... sambil guling-guling), padahal yang sebenarnya terjadi adalah masyarakat dipaksa menjual jabatan itu pada kandidat peserta pemilu. dan setelah jadi wakil rakyat pertama yang dilakukan adalah membentuk jaringan lingkaran setan untuk mengembalikan modal pembelian jabatan dari rakyat. Kalau sudah begini siapa yang disalahkan! dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.

Dari kamar gotakan kecil mengintip keluar jendela, melihat jalan dipenuhi orang-orang saling menyalahkan tanpa jelas dimana kebenaran dan kesalahannya. Selembar kisah pengangkatan Kholifah membuat jelas pemilihan kepemimpinan di negeri ini serasa begitu janggal. Dari sudut retakan dinding ada kerinduan akan cahaya murni di dunia ini, dari pecahan ubin ada kesedihan melihat generasi teracuni, lalu muncullah tekad pembenahan itu harus dimulai dari diri sendiri.

Post a Comment Blogger

 
Top